Bergabung Dengan Kami?

To my PrInSCESs

foto : Princess Crown


Hello there my PrInSCESs …
There's such thing empty, but missing you, how was your been there? Is it comfort enough? Or still miss to lay on someone shoulder, I'm pretty much ...
Miss you for such thing,

We know what have we been doing rite now was not easy as the people spell A,B,C's, they dont even know the good things that we ever see, sure I was lonely, but it seem suspicious left me slowly,

As I say, the more I miss you, the more the poetry came pass through, I dont even realize that my mind could just write the whole thing about you, us, and the yearning thing, it unpredictable, but by writing this, its getting more stable,

Last morning, this morning, and the rest of them pass out from the time chamber, I let them blow up without you again and again on my side, do you feel the same way I do? Dont! Just stay well on your study! I beg you!

I felt the better morning today, with a glass of my great coffee and short poetry, instead a part of mind that missing you eternally…

posted from Bloggeroid
Lanjut »»»

ketika hati ini bukan lagi tempatmu

foto : spesial

kamu sadis ya… memberi aku sesuatu yang terlalu indah untuk dilupakan, seperti anak kecil yang pernah menerima mainan mahal yang selalu diidamkan, memunculkannya sebagai sephia dari setiap malam dilelap tidurnya,

ingatanku kemarin kembali berantakan, kenapa tidak? Dirimu kembali menemui disetiap sudut barisan mimpi yang secara tiba-tiba datang mengacaukan, melengkapi serpihan kubik yang pernah ku hilangkan dan lagi-lagi, ada PR yang harus aku selesaikan, menata kenangan tentunya, namun tak serapi biasanya,

kau masih ingat dengan ini? hati
iya…
itu tempat tinggalmu dulu, kau (pernah) mencerahkan, memberi suatu makna tersendiri, memainkan peranan penting dalam kehidupan tokoh yang menurutmu penuh misteri (ini), namun sebelum kasusmu usai, kau pergi,

tak perlu ku sembunyikan dibalik kemilau bebatuan mulia, atau malam dengan sederet bintangnya, bulan bahkan menertawakan, hanya mengedip sembari tersenyum perlahan, terkadang orang mengatakan ia turut merasakan, tapi menurutku mereka tidak tau perwujudan asli bentuk emosi dari bulan itu sendiri,

sudahlah… aku ingin tertawa bebas bersama mereka malam ini, jangan salah! Ini hanya salah satu cara untuk menertawai diriku sendiri



posted from Bloggeroid
Lanjut »»»

The place we call home

foto : family

Aku pulang…
Dari kehampaan malam, setelah lama menelusuri senja suram yang telah tergantikan, ia perlahan pergi, meninggalkan aku terpojok sendiri, setidaknya, seandainya itu kamu, meski pergi bermigrasi hati, tapi setidaknya, ada tempat baru yang bisa mengganti,

Pintu ini usang…
Karena semalam ia sendiri, kedinginan tertiup angin malam, yang dinginnya tidak berperi-kepintuan, mengoyaknya dengan hembusan udara sepoi, pelan, sayup dan mencabik hingga bagian intinya terlukai begitu dalamnya, seandainya itu hati, kau tau bagaimana angin kehampaan yang berhembus meski tulus, ia masih mengiris halus,

Jendela ku buka kembali tak bertuan…
Andai saja menemukan tuan yang baru untuk menghias bingkai jendela ini, pasti ia berisi, di balik ruang kosong yang terbuka, ku intip dari tirai yang terurai, tapi hanya melihat tali merah putus terberai, bukan benang, bahkan tali pun bisa terputus, apa lagi benang merah yang lemah!

Tempat ini ku panggil rumah, meski kosong, di tinggal penghuni, hingga menyapa sunyi itu sendiri, tapi akan ku diami, mengisi satu demi satu, kekosongan hingga kembali seperti rumah itu dulu… Rumah Idaman
Lanjut »»»

Sejauh mana…

foto : simply love

Kita tau kan cinta itu sederhana?
Namun kenapa harus kita memperumitnya? Dengan rasa rindu yang terlalu, menyiksa pelan dalam diam, karena kita tidak bicara apa-apa, diam seribu bahasa,

Saat berhadapan, yang bisa kita lakukan hanya bertatapan, memandangi masing-masing dalam kediaman, sunyi… tapi ada bahagia serta kepuasan sendiri, dari ulur tarik nafasmu cukup membuatku bahagia sendiri, karena aku telah berdiri di depan orang yang aku cintai,

Aku tidak tau apa perasaanmu menyama-ratakan kita, aku harap demikian, karna terkadang, lebih baik kita mencoba, daripada hanya terus berdiam, bersembunyi di balik ego masing-masing, pertanyaannya…

Sejauh mana kita bisa bertahan, terserang rindu yang mengalir perlahan, hingga akhirnya tenggelam sendirian…
Lanjut »»»

Ingat kita?

foto : web
Ini  bulan hari keberapa yah, aku sudah tidak membicarakan kamu? Kalau kamu yang mengingatnya, justru kamu lah yang lebih perhatian dalam mencari tau akan ku, hahaha. . . Aku sok tau yah? Anggap saja itu bagian dari kelebihanku,

Bagaimana keadaanmu sekarang? Masih mencari tau akan keberadaanku? Malah rasanya, justru aku yang sebaliknya, ada rasa kerinduan untuk bersua kembali, bukan tentang perasaan kehilangan yang kemarin masih aku awetkan, namun dercak ingatan yang sebatas singgah, berharap terwujud pertemuan,

Kamu ingat mentari yang kemarin tenggelam di sudut senja, ketika aku tertawa akan kekonyolanmu untuk menyelamatkan atas kebodohannya, kebodohan yang selalu diulang-ulang, setelah kemarin ia timbul, dan besoknya kembali tenggelam,
Aku rindu momen itu

Kekonyolanmu, dan keisenganku, membuat pelanggan di kafe favorit kita dulu memusatkan seluruh perhatiannya kepada kita, jemari menari di atas sepiring nasi berlauk ayam kentucky, berebut butiran terakhir, bahkan tidak mau kalah akan kulit ayam yang tersisa, andai saja hanya salah satu di antara kita penyuka kulit ayam itu, pasti kenangan justru datar dan biasa saja,

Tidak berasa yah, flashback ini terlalu jauh rasanya, ku sambung aja di tulisan selanjutnya, dan selalu berharap, semoga kamu bisa baca, dan melukis senyum terbaikmu
Lanjut »»»

apa khabar masa lalu?

foto : allow men talk
Apa khabar masa lalu?
Aku seringkali bingung bagaimana cara meyapamu , mungkin aku harus diam sambil mengamati laju poros rotasi bumi, sepertinya pelan, namun cukup membunuh waktu dikala kesunyian, aku tidak mau sok tau akan hal itu, aku bukan seorang antropologi atau ahli geografi, bahkan apa sebutan paling tepat untuk itu, yang pasti, watuku terbunuh saat meyaksikan keindahan bintang di luas langit yang terbentang.

Dengar khabar kau telah dipinang? Itu berarti akan melepas masa lajang dan menikah dengan seseorang yang bisa membuatmu melupakan masa lalu tentunya, kau akan ikut dia pergi? Mungkin kau akan menemukan kehidupan baru disana, semoga kau bahagia dengan segala kasih sayangnya yang dulu tak mampu ku berikan, aku turut bahagia!
Ah tidak, aku berbohong!
Mana mungkin aku bahagia jika masih ada hal yang mengganjal yang tak mampu aku deskripsikan, yang terus ku sembunyikan meski memimpikanmu ditiap malam

Kau sepertinya sudah menemukan tempat bersandarmu, tepat disebelah kiri lelaki yang saat ini kau cintai, aku membicarakan tentang rusuknya, beberapa waktu lalu, kau sempat berfikir itu aku kan? Aku pun begitu, beberapa potong kenangan dari masa lalu memang tak terlupakan, meskipun bisa, jangan! Biarkan itu menjadi bahan cerita untuk keturunanmu nanti, pun juga aku.

Mau ku ceritakan beberapa potong kenangan yang tidak akan ku lupakan? Aku masih menyimpannya dibagian lorongan memori ingatanku yang mulai usang, tak terawat, termakan laju waktu nampaknya, namun ia masih sering ku jaga. Semoga saja lelakimu berfikiran terbuka, karena ini sekedar mitologi kita yang sekedar ku ulas untuk meyegarkan kotak kenangan. Namun sebaiknya ku ulas di tulisan mendatang, karena belakangan aku mulai pelupa, bahkan untuk mengingatmu yang pernah menjadi bagian dariku.
Lanjut »»»

Hujan kita (dulu)

foto : embun hujan

Hujan adalah unsur yang paling ampuh dalam membangkitkan kenangan, butir demi butir bergulir, mengembun menjadi bulir-bulir bening pembasuh masa lampau yang kian jauh terpendam, mengikis sedikit demi sedikit, mengulang hal indah maupun sakit,

Ada pelangi yang tersirat dibalik matamu ketika menatapku, itu dulu… sebelum waktu mengharuskan kita tersendat, di tengah penantian yang kandas di haluan hiruk-pikuk tempat sejatinya berlandas, pelangi itu memudar seiring rasa yang mulai hambar, tanpa rindu membumbui, hingga luka kita cumbui sendiri,

Aku mencari di mana pelangi yang dulunya menyala indah, kini hilang seiring mentari rebah, hanya tinggal 1 warna, yakni jingga yang bersinar terang, mulai redup di bulir cairan mata yang sayup, aku membicarakan tentang senja kita, senja yang dulunya bahagia, iya… dan kini hanya tinggal kenangannya, bukan sejarah, karna cuma serpihan rasa kita yang menjadi peninggalan bukti nyata,

Kau tau luka ini begitu perih, terbalut lirih, saat air hujan berkunjung, harus dengan apa ku jamu, bila tidak dengan lukaku, luka yang pernah kau tinggalkan dulu, masih rapi terbungkus perban, masih menetap, tidak ada yang menanggalkan, hingga waktu datang beriringan, menyembuhkan perlahan, tapi masih meninggalkan kesan,

Dimana kau sembunyikan bulir di balik kelopak jaringan matamu, yang tersemat sejuta hasrat akan rindu yang tak kunjung dicumbu waktu, hingga tiba masa penantian saat kisah kita kemarin kau lepaskan? Apa hilang begitu saja, atau semayamkan di rumah duka, kalau iya, di mana jenazahnya? Biar aku yang mengheningkan cipta
posted from Bloggeroid
Lanjut »»»

berteduh di kiri matamu

foto : Red Eye Frog Shelter
aku menulis ini dalam keadaan kantuk berat, jadi bukan salahku jika tiada unsur gombal yg biasa keluar, meski mataku kian berat, namun serasa ditemani matamu kemarin sore, ia meneduhkan, namun sayangnya tidak hujan, maka aku hanya mampir 1 malam,

indahmu masih bisa ditelisik dari ruangku berbaring saat ini, iya, kelopak matamu, aku nyaman, bisa istirahat dengan aman, pelan-pelan… aku terlalu memberatkan? Maaf! Matamu terlalu indah untuk terlewatkan,

hei, bintang itu masih bisa melihatku? Tak cukup dalamkah aku menyelami matamu, ku rasa cukup, aku tak mau tenggelam jauh ke dasar curam sedalam jurang, bahkan bintang itu takkan sanggup terbang lagi setelah jauh terbawa arus matamu pergi,

aku tak melihat pelangi dibalik matamu, meski ia, takkan ku sapa, meski semua berteriak gaduh, ia tak acuh, apa ia mau sok patuh, akan siapa? Sinar yg membias diretina matamu? Atau penciptanya yg terlupa akan letaknya? Pelangi itu sombong, aku bisa menyombonginya lebih, namun kali ini ia sedih, hanya 4 dari 7 cahaya yg keluar, yg lain tentu mengalir disungai matamu, biar ku usap!

apa kau akan terus begini? Membiarkan aku menginap malam ini, namun sungaimu seakan tak berbendung, terus membasahi aku yg sedang ketiduran, aku pindah, kan ku cari tempat yg lebih nyaman, tapi matamu jauh lebih indah!
posted from Bloggeroid
Lanjut »»»

tak semudah itu membenci masa lalu

foto : couples-looking-at-past

"Kamu pernah jatuh cinta? Pasti udah mengalami yang namanya patah hati?"
"Patah hati? Apa keadaan apabila hati rasanya pecah berkeping-keping, ketika berjalan sangat perih bagai terinjak beling, dan ketika melihat doi seperti kaku tak bergeming?"
"Hahahah… itu terlalu berima, beri aku contoh yang sederhana!"
"Umm… baiklah, patah hati itu ketika sudah tidak berhubungan lagi dengan masa lalumu, terus-terusan berdiam diri karena masih ingin saling memiliki?"
"Berarti mereka masih saling cinta? Terus kenapa masa lalu?
"Iya karena mereka terkalahkan oleh ego masing-masing, dan salah 1 dari mereka terlalu rapuh untuk berjuang hingga akhir"
"Bagaimana perasaan mereka saat sudah tidak bersama? Dan status mereka?"
"Benci, rapi aroma cinta masih kuat merekat, karena jika mereka tidak saling cinta, mereka bisa menerima keadaannya, mereka masih punya rasa ingin memiliki yang kuat! Status, tentu saja masa lalu dengan sejumlah kenangan yg terdahulu"
"Kamu seakan mendalami semua jawabanmu tadi? Pengalaman ya?
"Hahahah… anggap saja iya!"
"Terus cinta kamu? Ingin kamu berikan kepada siapa?"
"……………"

aku menulis dialog tersebut bukan karena tau pasti, beberapa diantaranya adalah cuplikan dari temanku, dan sepenggal kisah masa lalu, ada seorang teman yang dulunya pemalas, bisa sepantas kilat berubah menjadi penyair handal, dia tak mau kusebutkan namanya, biarlah… toh juga dia menikmati perasaannya, terlebih… aku menyukai karyanya

Bukan cinta namanya kalau tidak saling benci, masih ingin saling memiliki, tidak mau mengakui, dan terus terkalahkan oleh ego sendiri, begitu pula akhirnya, hanya bisa menatap dari kejauhan, sembari pelan-pelan mengimbas kenangan,

Pada akhirnya salah 1 daripada kalian menemukan sandaran di bahu yang lain, namun sandaran hati, apa masih bisa menemukan tempat nyaman yg sama, seperti saat kalian bersama? Dan yang sangat terluka, bila harus berjuang tanpa kawan melawan kesendirian, hingga akhirnya menemukan kenyamanan baginya, dan sebuah kepuasan sendiri tentunya,

Jika masih saling cinta, mengapa harus menafikan, justru akan membuat luka lebih dalam, perih, sampai ke tingkat akut yg sulit disembuhkan, tidak ada yang terlambat untuk kembali, hanya saja gengsi terlalu kuat menguasai…
*Note To Self*
posted from Bloggeroid
Lanjut »»»

Search

Loading...