Showing posts with label Hujan. Show all posts
Showing posts with label Hujan. Show all posts

berteduh di kiri matamu

foto : Red Eye Frog Shelter
aku menulis ini dalam keadaan kantuk berat, jadi bukan salahku jika tiada unsur gombal yg biasa keluar, meski mataku kian berat, namun serasa ditemani matamu kemarin sore, ia meneduhkan, namun sayangnya tidak hujan, maka aku hanya mampir 1 malam,

indahmu masih bisa ditelisik dari ruangku berbaring saat ini, iya, kelopak matamu, aku nyaman, bisa istirahat dengan aman, pelan-pelan… aku terlalu memberatkan? Maaf! Matamu terlalu indah untuk terlewatkan,

hei, bintang itu masih bisa melihatku? Tak cukup dalamkah aku menyelami matamu, ku rasa cukup, aku tak mau tenggelam jauh ke dasar curam sedalam jurang, bahkan bintang itu takkan sanggup terbang lagi setelah jauh terbawa arus matamu pergi,

aku tak melihat pelangi dibalik matamu, meski ia, takkan ku sapa, meski semua berteriak gaduh, ia tak acuh, apa ia mau sok patuh, akan siapa? Sinar yg membias diretina matamu? Atau penciptanya yg terlupa akan letaknya? Pelangi itu sombong, aku bisa menyombonginya lebih, namun kali ini ia sedih, hanya 4 dari 7 cahaya yg keluar, yg lain tentu mengalir disungai matamu, biar ku usap!

apa kau akan terus begini? Membiarkan aku menginap malam ini, namun sungaimu seakan tak berbendung, terus membasahi aku yg sedang ketiduran, aku pindah, kan ku cari tempat yg lebih nyaman, tapi matamu jauh lebih indah!
posted from Bloggeroid
Lanjut »»»

Sederhana saja

foto : petrichor

Kenapa hal yang ku tulis belakangan ini selalu ku sangkutkan dengan hujan dan kamu, aku mencoba mengurai kata "kita" yang kemarin bercanda di teras itu, tapi tersangkut di kalimat-kalimat terakhir akan indahmu, ingin ku tulis tapi aku takut ia terlalu manis,

Beberapa malam terakhir, kau sempat tidak menidurkanku, mendendang dalam melodi pra-kematian, lebih memperjelas efek dibandingkan dengan Brain Wave yang selama ini ku dengarkan, mensugesti? Tidak, hanya menyadarkan bahwa kau masih jauh ku gapai, jika aku masih berdiam diri dan terus berandai…

Berteman itu indah, tapi apa kau tau, kalau cinta itu berkeinginan untuk memiliki? Egois memang, tapi begitulah kenyataan, kau takkan bisa menganggap orang yang sayangi itu sebagai teman biasa, kau ingin terus berada di sampingnya, memilikinya, membiarkan dia mengisi kekosongan di sela-sela jemarimu, menatap jauh semesta di sudut matamu, sambil menggambar rasa pada langit yang sama, melukis gugus bintang yang selama ini tiada yang menemukan, ku kira… sesederhana itulah cinta,

Sebenarnya… tiada keahlian khusus dalam mencintai, hanya butuh 2 hati yang siap terlukai! Ah, lagi-lagi aku yang memperumitnya, terkadang, iya tak lebih dari rumus perhitungan logika yang seringkali membuatku menyerah, sebagai alibi… aku bukan orang yang perhitungan
Apa hidup itu begitu sederhana sepertu katamu? Atau bahagia itu sangat mudah seakan kita tau? Biar ku perjelas, "AKU MENCINTAIMU" iya, sesederhana kata itu…
posted from Bloggeroid
Lanjut »»»

kala hujan di November itu

foto : hujan
Belakangan ini aku merasa seperti bukan diriku lagi, aku terlalu banyak meminta maaf, tak seperti biasanya kata itu enggan keluar meski sampai di penghujung lidah, ia terdiam, lalu lenyap di sana…

nampaknya sekali lagi aku harus meminta maaf, hujan November ini membasuh ingatanku kemarin sore, ia menyegarkan kembali ingatan yang bahkan aku lupa saat ini aku masih mempunyainya,

Sebenarnya… aku tak ingin menggugah kembali asamu untuk mengingat sepercik kenangan kecil di November kala itu, hanya saja hujan kembali membasuh ingatan yg samar, ku ingat namun tidak banyak yg ku lihat, bentar ya, aku menceritakannya sebisaku!
waktu menunjukkan jam 4 sore, saat ibu-ibu pulang dari sawah, kita berjalan seperti biasanya, namun tak disangka rinai hujan membasahi jalan, kita berteduh dipohon penuh kenangan ketika dulu aku menyatakan perasaanku, disini aku mulai bisa mengingatnya…

"kau lihat bunga itu? Ia indah, namun lekas hilang, tanpa aba-aba, begitulah hubungan kita nantinya"
"maksud kamu apa?"
"diusia kita, menjalin hubungan 1 tahun sudah terbilang hebat, tidakkah kau bosan nantinya?"
"jika kau masih disisiku, aku masih mampu"
"tak mungkin selalu aku yg disisimu, terkadang aku juga harus pergi ke lain hati"
"kau akan mencari penggantiku, begitu?
"kita lihat saja nanti, aku yg harus pergi ke lain hati, atau kamu yg melepaskan aku pergi, kita tidak tau itu"
"tidak mungkin untuk aku melepaskanmu, mungkin belum"
"begitulah maksudku, kau tau… Ketika seorang perempuan sudah terlanjur emosi, apapun akan mungkin"
Ucapku sambil mengacak-acak rambutnya…
"lelaki juga sama saja, egois!"
*Weekk* Ejeknya…
"tergantung sikap wanita yg kami cintai"
Jawabku dengan gaya sok cool…
"kalau aku?"
"umm… biar ku fikir-fikir dulu ya"
*Tertawa lepas*
"tuh kan…"
"pakailah jaketku, tidak semua perempuan ku perlakukan layaknya puteri"
"ah, gombal…"
"tapi kamu suka kan? Aku baik lho…"
"Ah, terserah…"

Seperti biasa, obrolan kita akan berakhir pada kalimat "terserah" mu, namun berbeda jika kamu yg mengucapkan, ia masih terdengar layaknya pita perekam yg bosan memutar lagu yg sama, namun ini berbeda, ia hanya 1 kata!
Ingatanku hanya tersisa kalimat itu dari bibirmu, yg lainnya? Entahlah…

posted from Bloggeroid
Lanjut »»»

Search